Thursday, June 2, 2011

bulan rajab dan Isra Mi'raj

Disini saya akan mengulas tentang Isra dan Mi'raj = shalat 5 waktu, kita akan snagt rugi bila tak megetahui tentang Isra dan Mi'raj, berikut sedikit tentang Isra dan Mi'raj;

Isra Mi'raj (Arab:الإسراء والمعراج‎, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāğ) adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi'raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi'raj.
Peristiwa Isra Mi'raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam "diberangkatkan" oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.

sekian mengenai Isra dan Mi'raj bila ada kurang lebihnya mohon maaf dan bisa comment dibawah, semoga bermanfaat bagi anda wassalam

Labels: , , , , , , , ,

Beberapa Keutamaan Bulan Rajab

Berikut ini saya akan membahas tentang beberapa Keutamaan Bulan Rajab, kita sebagai umat muslim pasti akan sangat rugi bila tak mengetahuinya, berikut beberapa Keutamaan Bulan Rajab ;

Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan. Namun tidak sedikit kaum muslimin yang masih jauh dari bimbingan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyambut datangnya bulan ini, yaitu mengkhususkan ritual-ritual ibadah tertentu seperti puasa, shalat Raghaib, peringatan malam 27, dan lain sebagainya.
Berikut penjelasan para ulama tentang pengkhususan ritual ibadah tertentu pada bulan Rajab. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan:
Di sana ada hari-hari tertentu (khusus) di bulan Rajab yang ditunaikan padanya puasa sunnah, apakah hari-hari tersebut jatuh pada awal bulan, pertengahan, ataukah di akhirnya?
Jawab:
Tidak ada hadits-hadits khusus yang tetap (shahih) tentang keutamaan puasa pada bulan Rajab selain hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari shahabat Usamah, bahwa dia berkata:
“Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan tertentu sebagaimana puasa engkau pada bulan Sya’ban.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ذلك شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan yang terletak antara Rajab dan Ramadhan, dan itu adalah bulan yang mana seluruh amalan diangkat ke hadapan Rabbul ‘Alamin, maka aku senang jika amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” [HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Zanjuyah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Barudi, Sa’id bin Manshur]
Hadits-hadits yang ada menunjukkan keumuman tentang dorongan untuk berpuasa tiga hari di setiap bulan, dan dorongan untuk berpuasa pada hari-hariBidh di setiap bulan, yaitu tanggal 13, 14, dan 15, dorongan untuk berpuasa pada bulan-bulan haram, puasa pada hari Senin dan Kamis. Dan bulan Rajab masuk ke dalam keumuman dari itu semua.
Jika engkau bersemangat untuk memilih hari-hari tertentu pada setiap bulannya, maka pilihlah hari-hari Bidh yang tiga tersebut, atau hari Senin dan Kamis, kalau tidak maka terserah karena perkaranya sangat mudah.
Adapun pengkhususan puasa pada hari-hari tertentu di bulan Rajab, maka kami tidak mengetahui dasarnya dalam syari’at ini. Wabillahit Taufiq.
Al-Lajnah Ad-Da-imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi
Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan
Anggota : ‘Abdullah bin Qu’ud
Sumber: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da-imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’[III/176]
Pertanyaan pertama dari fatwa no. 2608
Penjelasan Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah
Beliau ditanya:
Sebagian orang mengkhususkan bulan Rajab dengan melakukan berbagai bentuk ibadah tertentu seperti shalat Raghaib[1] dan menghidupkan malam ke-27. Apakah yang demikian itu ada dasarnya di dalam syari’at ini? Jazakumullahu khairan.
Beliau menjawab:
Pengkhususan bulan Rajab dengan ibadah shalat raghaib atau peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa malam tersebut adalah malam Isra’ Mi’raj, maka ini semua adalah bid’ah dan tidak boleh untuk dilaksanakan, amaliyah seperti itu tidak ada dasaranya dalam syari’at ini.
Para ulama juga telah memperingatkan tentang permasalahan ini, dan kami pun juga sudah pernah menulis tentangnya lebih dari sekali, dan kami telah jelaskan kepada orang-orang bahwa shalat raghaib adalah bid’ah, yaitu sebuah ritual yang dilakukan oleh sebagian orang di malam Jum’at pertama bulan Rajab.
Demikian pula peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa itu adalah malam Isra’ Mi’raj, itu semua adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at.
Malam Isra’Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Kalaupun diketahui, tetap tidak diperbolehkan untuk mengadakan peringatan malam tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memperingatinya, demikian pula para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para shahabat yang lain radhiyallahu ‘anhum. Kalau seandainya peringatan seperti itu termasuk sunnah, maka niscaya mereka akan mendahului kita untuk memperingatinya.
Segala kebaikan itu ada pada sikap mengikuti mereka dan berjalan di atas manhaj mereka sebagaimana Allah ‘azza wajalla firmankan:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
Dan telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang pada dasaranya bukan berasal dari agama tersebut, maka dia tertolak.”[HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad]
Dan beliau ‘alaihish shalatu wassalam juga bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (tuntunan syari’at) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” [HR. Muslim, Ahmad]
Dan makna ‘maka amalannya tersebut tertolak‘ adalah ‘tertolak kepada pelakunya‘.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dalam khuthbahnya:
أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد – صلى الله عليه وسلم – ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل بدعة ضلالة
“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR. Muslim, An-Nasa’i]
Maka yang wajib atas segenap kaum muslimin adalah untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan istiqamah di atasnya, saling mewasiati untuk itu dan waspada dari segala bentuk kebid’ahan sebagai realisasi dari pengamalan firman Allah ‘azza wajalla:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”[Al-Maidah: 2]
Dan firman-Nya subhanahu wata’ala:
وَالْعَصْرِ سورة العصر الآية إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ سورة العصر الآية إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr: 1-3]
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
الدين النصيحة ، قيل : لمن يا رسول الله ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم.
“Agama itu adalah nasehat. Ditanyakan kepada beliau: untuk siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: untuk Allah, untuk kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan segenap umat Islam.” [HR. Muslim]
Adapun umrah, maka tidaklah mengapa untuk ditunaikan pada bulan Rajab, karena telah shahih di dalam Ash-Shahihain dari shahabat Ibnu ‘Umarradhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunaikan umrah pada bulan Rajab. Dahulu para salaf juga menunaikan umrah pada bulan Rajab, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah di dalam kitabnya ‘Al-Latha-if‘ dari shahabat ‘Umar, anaknya (Ibnu ‘Umar), dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Dan dinukilkan dari Ibnu Sirin bahwa para salaf dahulu juga melakukan yang demikian. Wallahu Waliyyut Taufiq.
Sumber: Majmu’ Fatawa Ibn Baz [XI/476-477]
Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaiminrahimahullah
الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة أرجو بها النجاة يوم نلاقيه وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أرسله بالهدى ودين الحق فبلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأمة فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.
Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah berfirman:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” [Al-Baqarah: 189].
Dan Allah ‘azza wajalla juga berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” [At-Taubah: 36]
Sesungguhnya bulan-bulan Hilaliyah ini merupakan bulan-bulan yang Allah tetapkan untuk hamba-hamba-Nya sebagai waktu-waktu bagi manusia dalam bermu’amalah dan beribadah.
قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” [Al-Baqarah: 189].
Di antara bulan-bulan tersebut adalah empat bulan yang diharamkan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram yang merupakan tiga bulan yang berurutan, dan Rajab secara sendiri yang terletak antara bulan Jumadal Tsaniyah dan Sya’ban.
Dan sebentar lagi, bulan ini (yakni Rajab, pent) akan tiba mendatangi kalian. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan-bulan haram yang memiliki keutamaan. Sudah semestinya pada bulan tersebut untuk menjauhi berbagai bentuk maksiat sebagaimana pada tiga bulan yang lain, namun tidak pernah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengkhususkan pada bulan itu dengan menambah ibadah shalat maupun puasa. Semua hadits yang menyebutkan tentang permasalahan ini adalah hadits-hadits yang lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.
Sebagian orang beribadah kepada Allah ‘azza wajalla dengan berpuasa pada tiga bulan: Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, namun tidak dibenarkan untuk mengkhususkan puasa pada bulan Rajab.
Adapun Sya’ban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperbanyak puasa pada bulan tersebut sampai pernah beliau berpuasa sebulan penuh ataupun mayoritasnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha.[2]
Wahai saudara-saudaraku,
Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah suatu perkara yang diada-adakan dalam agama ini. Sesungguhnya seluruh amalan yang dengannya engkau beribadah kepada Allah, namun amalan tersebut tidak pernah disyari’atkan di dalam Kitabullah maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya itu adalah kebid’ahan yang tidaklah menambah bagi engkau kecuali semakin jauh dari Allah ‘azza wajalla. Karena setiap orang yang berbuat bid’ah, berarti kebid’ahannya itu akan memberikan makna bahwa agama ini belum sempurna semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Allah ta’ala telah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”[Al-Maidah: 3]
Allah berfirman yang demikian itu dalam sebuah ayat yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at, di hari ‘Arafah ketika haji wada’.
Sehingga agama ini telah sempurna, tidak butuh kepada penyempurnaan, dan tidak pula butuh kepada sesuatu yang diada-adakan. Setiap manusia yang beribadah kepada Allah dengan menjalankan suatu amalan yang tidak disyari’atkan di dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, maka amalannya tersebut tertolak dan dia tersesat disebabkan amalannya itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam rangka memberikan peringatan kepada umatnya:
إياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (tuntunan syari’at) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” [HR. Muslim]
Ambillah prinsip ini wahai saudaraku muslim, ambillah petunjuk ini, bahwa setiap amalan yang dengannya seseorang beribadah (kepada Allah), baik itu amalan hati seperti aqidah/keyakinan, atau amalan lisan seperti dzikir-dzikir bid’ah, atau amalan anggota badan seperti amaliyah bid’ah, jika tidak memiliki saksi (berupa dalil/hujjah, pent) dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidaklah didapatkan kecuali kerugian di dunia dan akhirat.
أسأل الله تعالى أن يبصرني وإياكم بدينه وأن يرزقنا علماً نافعاً وعملاً صالحاً يُقربنا إليه وأعوذ به من الجهل والبدع
Saya memohon kepada Allah ta’ala agar Dia memberikan bashirah (ilmu pengetahuan) kepadaku dan kepada kalian semua tentang agama-Nya, dan agar Dia memberikan rizki kepada kita semua berupa ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih yang bisa mendekatkan diri kita kepada-Nya. Dan saya memohon perlindungan kepada-Nya dari kebodohan dan kebid’ahan.
اللهم إنا نسألك يقيناً لا شك معه وإيماناً لا كفر معه واتباع لا ابتداع معه وإخلاصاً لا شرك معه يا ذا الجلال والإكرام يا حي يا قيوم
Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keyakinan yang tidak ada keraguan bersamanya, keimanan yang tidak ada unsur kekufuran bersamanya, sikap ittiba’ (mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yang tidak ada sikap ibtida’ (mengada-adakan perkara baru dalam agama) bersamanya, ikhlas yang tidak ada kesyirikan bersamanya, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang maha hidup lagi terus-menerus dalam mengurus makhluk-Nya.
Wahai saudara-saudara kaum muslimin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang agung:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab: 56]
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”[Al-Baqarah: 285]
اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك محمد اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك محمد اللهم ارزقنا محبته واتباعه ظاهراً وباطنا اللهم احشرنا في زمرته اللهم اسقنا من حوضه اللهم أدخلنا في شفاعته اللهم اجمعنا به وبمن أنعمت عليهم في جنات النعيم إنك على كل شيء قدير
Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau, Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau Muhammad, Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau Muhammad.
Ya Allah, limpahkanlah rizki kepada kami untuk bisa mencintai beliau, mengikuti sunnah beliau, zhahir maupun batin.
Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam barisan beliau, ya Allah, berilah kami kesempatan untuk minum dari telaga beliau (nanti pada hari Qiyamat, pent), ya Allah, masukkanlah kami ke dalam jajaran orang-orang yang mendapatkan syafa’at beliau.
Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama beliau dan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat di surga yang penuh kenikmatan.
Sesungguhnya Engkau maha mampu atas segala sesuatu.
اللهم ارض عن خلفائه الراشدين وعن الصحابة أجمعين وعن التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين اللهم ارض عنا كما رضيت عنهم اللهم أصلح أحوالنا كما أصلحت أحوالهم
Ya Allah, ridhailah para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, para shahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik sampai datangnya hari pembalasan. Ya Allah, ridhailah kami sebagaimana Engkau telah meridhai mereka.
Ya Allah, perbaikilah keadaan kami sebagaimana Engkau telah memperbaiki keadaan mereka.
اللهم اجمع قلوبنا على الحق يا رب العالمين اللهم آلف بين قلوبنا اللهم اهدنا سبل السلام اللهم ألق بيننا المودة والمحبة يا رب العالمين اللهم أبعد عنا اختلاف القلوب والعداوة والبغضاء إنك على كل شيء قدير.
Ya Allah, kumpulkanlah hati-hati kami di atas al-haq, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, satukanlah hati hati kami, ya Allah, berilah kami petunjuk kepada jalan keselamatan, ya Allah, tanamkan kecintaan dan kasih saying di antara kami, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala bentuk perselisihan hati, permusuhan, dan kebencian, sesungguhnya Engkau maha mampu atas segala sesuatu.
Wahai hamba-hamba Allah,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [An-Nahl: 90]
Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=718463
Penjelasan Fadhilatul ‘Allamah Dr. Shalih bin Sa’d As Suhaimi hafizhahullah
Dan termasuk kebid’ahan yang tersebar pada masa ini adalah apa yang diyakini oleh orang-orang (kaum muslimin, pent) berupa pengkhususan bulan Rajab untuk melakukan ibadah tertentu seperti puasa atau menentukan hari tertentu (seperti malam 27 Rajab, pent) untuk menyelenggarakan ritual perayaan dan ibadah-ibadah tertentu dengan anggapan bahwa pada bulan tersebut adalah malam terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Penentuan semacam ini tidak ada dalilnya dari Kitabullah ta’alamaupun dari sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ragu lagi bahwasanya peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah benar adanya, dan beriman terhadapnya apa hukumnya?! Wajib, dan seorang muslim tidak ragu dalam perkara ini.
Bahkan beriman dengan (Isra’ Mi’raj) merupakan perkara yang sudah diwajibkan oleh Allah tabaraka wata’ala di dalam kitab-Nya:
سُبْحَانَ الَذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ المَسْجِدِ الحَرَامِ إلَى المَسْجِدِ الأَقْصَا الَذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” [Al Isra’: 1]
Dan beliau telah diisra’kan dengan ruh dan jasadnya, tidak dengan ruhnya saja, dan bukan pula kejadian dalam mimpi saja, bahkan beliau diisra’kan dengan ruh dan jasadnya shallallahu ‘alaihi wasallam -hingga beliau sampai di sidratul muntaha- shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihi.
Ini merupakan kedudukan yang tidak dicapai oleh seorang nabi pun sebelumnya, dan ini merupakan kekhususan yang Allah berikan kepadanyashalawatullahi wasalamuhu ‘alaihi.
Dan walaupun Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang tsabit (tetap dalam syari’at ini) dan beriman dengannya adalah wajib dan telah diwajibkan pula ketika itu shalat lima waktu, akan tetapi kita tidak memiliki dalil yang pasti bahwa itu terjadi di bulan Rajab.
Kemudian di sana ada perkara lainnya, yaitu bahwasanya walaupun kita mendapatkan dalil bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada bulan Rajab, apakah kita disyaria’tkan untuk melakukan ritual ibadah tertentu pada bulan tersebut?
Jawabannya adalah: tidak, karena segala bentuk ibadah itu sifatnya adalahtauqifiyyah (tetap dan paten sesuai dengan tuntunan Allah ta’ala dan Rasul-Nyashallallahu ‘alaihi wasallam) yang harus diketahui (dalil dan landasannya, pent) dari syari’at ini. Dan setelah mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup selama sekitar 13 tahun, dan beliau tidak pernah mengadakan acara-acara tertentu untuk memperingati peristiwa tersebut.
Apakah kita yang lebih bersemangat mengikuti al-haq ataukah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam? Tentunya beliau, ini tentunya tidak ragu lagi.
Sesungguhnya perbuatan mengada-adakan ibadah tertentu untuk memperingati Isra’ dan Mi’raj pada tanggal 12 atau 27 Rajab itu terjadi pada abad ke-4 Hijriyyah, setelah banyak bermunculannya sikap taqlid kepada orang-orang Yahudi dan Nashara dalam memperingati hari-hari ‘ied (hari raya-hari raya), seperti peringatan-peringatan hari-hari kelahiran atau yang lainnya dari bentuk peringatan-peringatan (hari raya) jahiliyyah yang Allah tidak menurunkan satu hujjahpun, maka itu semua adalah peringatan-peringatan jahiliyyah dan bid’ah yang diada-adakan.
Hari-hari ‘ied dalam Islam, ada berapa hari ‘ied kita? Aku katakan: hari ‘ied Islam ada tiga, apa saja itu? ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adh-ha, dan ‘Iedul Usbu’ yang itu merupakan hari Jum’at. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah menamakan itu semua dengan ‘ied dan tidak ada ‘ied yang keempat dari hari-hari ‘ied tersebut. Tidak ada ‘ied (hari ulang tahun) kelahiran, ataupun i’ed (hari raya) nasional, ‘ied perayaan Isra’ dan Mi’raj, ………..
Itu semua adalah ‘ied (perayaan/hari raya) jahiliyyah, semuanya adalah ‘ied jahiliyyah, tidak diketahu (dikenal) kecuali setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali setelah empat abad kemudian.
Kita mengajukan pertanyaan di sini:
Siapakah yang berada di atas al-haq?
Mereka generasi pertama yang hidup pada masa-masa generasi terbaik dan diutamakan? Ataukah Al-Fathimiyyun Al-’Ubaidiyyun yang menisbahkan kepada Fathimah radhiyyallahu ‘anha secara palsu dan dusta setelah empat abad (dari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pent)?! Siapa yang berada di atas al-haq?! Siapa yang lebih benar jalannya?!
Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamlebih daripada kecintaan mereka kepada beliau. Mereka (para shahabat tersebut) datang membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ruh dan jiwa-jiwa mereka, mereka menghadapi panah-panah dan tombak-tombak dengan dada-dada mereka yang suci dalam rangka menebus dirinya untuk (membela) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Walaupun demikian, mereka tidak pernah mengadakan peringatan-peringatan semacam ini. Apakah kemudian kita mengatakan bahwa mereka tidak mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Maha sempurna Allah, seorang muslim tidak akan mengatakan seprti itu, bahkan mereka (para shahabat) adalah orang-orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Beriman terhadap Isra’ dan Mi’raj adalah wajib, akan tetapi anggapan bahwa itu terjadi pada malam 27 Rajab adalah tidak benar bahkan itu merupakan kedustaan.
Riwayat-riwayat dalam sejarah menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada bulan Rajab, ada yang menyebutkan pada bulan Sya’ban, ada yang menyebutkan pula pada bulan Ramadhan, ada yang menyebutkan pada bulan Syawwal, dan ada pula yang menyebutkan pada bulan Dzulhijjah, Wallahu A’lam.
Tidak terlalu penting bagi kita (mengetahui) tarikh dalam masalah ini, dan yang (lebih) penting bagi kita adalah hakikat keimanan terhadap benarnya peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut.
Demikian pula mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa tertentu adalah tidak benar, tidak benar, tidak ada pada bulan Rajab itu puasa tertentu yang dikhususkan[3], dan barangsiapa yang mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ragu lagi bahwa mereka telah melakukan salah satu bentuk kebid’ahan di antara kebid’ahan-kebid’ahan yang diada-adakan manusia. Tidak ada dalil shahih yang tetap dalam pengkhususan bulan Rajab dengan puasa tertentu, shalat tertentu, maupun ritual ibadah khusus, akan tetapi (bulan Rajab) adalah sebagaimana bulan-bulan yang lainnya.


Diterjemahkan secara ringkas dan diberi catatan kaki oleh Abu ‘Abdillah Kediri. Shalat Raghaib atau biasa juga disebut dengan Shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan pada malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan ‘Isya. Pada siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Raghaib ini (yakni hari Kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah.

Adapun tata cara dan keutamannya adalah sebagaimana yang disebutkan dalamhadits maudhu’ (palsu) yang berbunyi:
وما من أحد يصوم يوم الخميس أول خميس في رجب، ثم يصلى فيما بين العشاء والعتمة، يعنى ليلة الجمعة، ثنتى عشرة ركعة، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب مرة، وإنا أنزلناه في ليلة القدر ثلاث مرات، وقل هو الله أحد اثنتى عشرة مرة، يفصل بين كل ركعتين بتسليمة، فإذا فرغ من صلاته صلى على سبعين مرة، ثم يقول: اللهم صل على محمد النبي الامي وعلى آله، ثم يسجد فيقول في سجوده:سبوح قدوس رب الملائكة والروح سبعين مرة، ثم يرفع رأسه فيقول: رب اغفر لي وارحم وتجاوز عما تعلم إنك أنت العزيز الاعظم سبعين مرة، ثم يسجد الثانية فيقول مثل ما قال في السجدة الاولى، ثم يسأل الله تعالى حاجته، فإنها تقضى. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: والذى نفسي بيده ما من عبد ولا أمة صلى هذه الصلاة إلا غفر الله تعالى له جميع ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر وعدد ورق الاشجار، وشفع يوم القيامة في سبعمائة من أهل بيته، فإذا كان في أول ليلة في قبره جاءه بواب هذه الصلاة، فيجيبه بوجه طلق ولسان ذلق، فيقول له: حبيبي أبشر فقد نجوت من كل شدة، فيقول: من أنت فوالله ما رأيت وجها أحسن من وجهك، ولا سمعت كلاما أحلى من كلامك، ولا شممت رائحة أطيب من رائحتك، فيقول له: يا حبيبي أنا ثواب الصلاة التى صليتها في ليلة كذا في شهر كذا، جئت الليلة لاقضى حقك، وأونس وحدتك، وأرفع عنك وحشتك، فإذا نفخ في الصور أظللت في عرصة القيامة على رأسك، وأبشر فلن تعدم الخير من مولاك أبدا
“Dan tidaklah ada seorang yang berpuasa di awal Kamis bulan Rajab, kemudian shalat di,antara Maghrib dan ‘Atamah (Isya)- yaitu malam Jum’at- dua belas rakaat, membaca pada setiap rakaatnya surat Al-Fatihah sekali dan surat Al-Qadr tiga kali serta surat Al-Ikhlas dua belas kali, setiap dua rakaat dengan satu kali salam, jika telah selesai dari shalat tersebut maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan ‘Allahhumma Shalli ‘Ala Muhammadin An-Nabi Al-Ummiyyi Wa ‘Ala Alihi’, kemudian sujud lalu mengatakan dalam sujudnya: ‘Subuhun qudusun Rabbul Malaikati War Ruh’ tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan: ‘Rabbighfirli warham wa tajaawaz ‘amma ta’lam Inaka anta Al-Aziz Al-A’zham‘ tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama, lalu memohon kepada Allah hajatnya, kecuali pasti hajatnya tadi akan dikabulkan.
Rasulullah bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang hamba laki-laki maupun perempuan yang melakukan shalat ini kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya walaupun seperti buih di lautan dan seperti sejumlah daun di pepohonan, serta bisa memberi syafaat di hari kiamat kepada tujuh ratus keluarganya. Ketika berada di malam pertama di kuburnya, akan datang kepadanya pahala shalat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: ‘Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: ‘Siapa kamu? Sungguh demi Allah, aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu dan tidak pernah mendegar perkataan semanis perkataanmu serta tidak pernah mencium bau wewangian sewangi bau wangi kamu’. Lalu ia berkata: ‘Wahai kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan di malam itu pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu kegundahgulanaanmu. Ketika ditiup sangkakala, maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maula-Mu (Allah) selama-lamanya.”
Haidts ini adalah hadits maudhu’ (palsu), disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Maudhu’at (II/124)
Dari hadits tersebut, dapat diketahui secara ringkas tata cara Shalat Raghaib, yaitu:
1. Dikerjakan antara Maghrib dan ‘Isya’, jumlah rakaatnya dua belas, setiap dua rakaat satu salam.
2. Pada setiap rakaat membaca surat Al-Fatihah sekali, surat Al-Qadr tiga kali, dan surat Al-Ikhlash dua belas kali.
3. Setelah shalat mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tujuh puluh kali dengan lafazh:
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ
4. Kemudian sujud dengan membaca tujuh puluh kali:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْح
5. Kemudian bangun dan duduk dengan mengucapkan tujuh puluh kali:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ اْلأَعْظَمُ
6. Lalu sujud lagi dan mengucapkan ucapan yang sama dengan sujud yang pertama
7. Kemudian berdo’a kepada Allah sesuai dengan hajat dan kebutuhannya.
 HR. Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
 Sebagaimana bulan yang lain, seperti tanggal 9 dan 10 Muharram, 6 hari di bulan Syawwal, dan 9 Dzulhijjah.

sekian mengenai Keutamaan Bulan Rajab semoga bermanfaat bagi anda, wassalam

Labels: , , , , , , ,

Peristiwa Penting dan Bersejarah di Bulan Rajab

Berikut ini saya akan membahas tentang beberapa peristiwa penting dan bersejarah di bulan rajab, kita sebagai umat muslim pasti akan sangat rugi bila tak mengetahuinya, berikut beberapa peristiwa penting di bulan rajab;

Rajab terdiri dari tiga huruf akronim yaitu : Ra' dari kalimah rahmatullah (rahmat Allah), Jim dari kalimah jinayatul-'abd (kesalahan hamba Allah), dan Ba' dari kalimah birrullah (kebajikan Allah). Bulan Rajab disebut juga dengan nama Al-Summun artinya tuli. Tuli disini bermakna tidak dapat mendengar bunyi senjata karena peperangan diharamkan sepanjang bulan Rajab.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam QS. At-Taubah (9): 36 sbb:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan; dalam ketetapan Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Demikian itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu (dalam bulan yang empat itu)……”

Menurut Allamah Kamal Faqih Imani dalam Tafsir Nurul Quran disebutkan bahwa sejak hari dibentuknya sistem tata surya seperti bentuk yang kita lihat sekarang ini, terbentuk pula hitungan tahun dan bulan. Hitungan satu tahun adalah perputaran lengkap dari rotasi bumi mengelilingi matahari; dan dalam hitungan satu bulan adalah pergerakan penuh dari rotasi bulan mengelilingi bumi, yang terjadi sebanyak dua belas kali dalam setahun.

Kemudian al-Quran menambahkan bahwa terdapat empat bulan di antara dua belas bulan itu yang haram (disucikan), dimana menurut hukum agama diharamkan, pada bulan-bulan yang empat itu, untuk bertempur dan berperang. Yang dapat dipahami dari beberapa literatur Islam bahwa larangan berperang selama empat bulan ini adalah merupakan perintah yang bukan hanya dalam agama (kepercayaan) Nabi Ibrahim as, tetapi juga dalam agama yang diturunkan Tuhan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, sebagaimana juga diturunkan kepada agama-agama langit yang lain. Sehingga apabila ada serangan dari kaum kafir kepada kaum muslimin, maka sudah semestinya bagi muslimin yang monoteistik untuk bersatu dalam satu barisan yang kokoh melawan musuh Islam.

Bulan Haram pada ayat di atas ialah bulan yang dihormati dan dimuliakan oleh al-Quran, mayoritas ahli tafsir mengemukakan bahwa ada empat bulan haram (mulia) yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Setiap bulan ataupun hari-hari tertentu yang dimuliakan pasti mempunyai makna sejarah dan nilai filosofis yang sangat berarti bagi kaum muslimin, demikian halnya dengan Rajab.

Banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah terjadi pada bulan Rajab diantaranya:

1. Hijrah Pertama ke Negeri Habsyah (Ethiopia)

Ketika pihak musyrikin Mekkah meningkatkan tekanan dan ancaman kepada kaum muslim dan Rasulullah Saww, maka Rsulullah Saww memerintahkan kepada para sahabat untuk melaksanakan hijrah ke negeri Habsyah (Ethiopia). Jumlah mereka adalah 14 orang termasuk 4 orang wanita. Habsyah dipilih oleh Rasulullah Saww karena rajanya dikenal dengan toleransi dan sikap terbukanya. Diantara mereka yang berhijrah ke Habsyah adalah Saidina Othman ra dan istrinya Roqiah putri Rasulullah Saww.

2. Peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah Saww
Isra’ Mi’raj termasuk di antara mukjizat khusus yang Allah berikan hanya kepada Rasulullah Saww, tidak kepada nabi-nabi yang lain. Isra’ ialah perjalanan malam Rasulullah Saww dari Masjidil Haram (Mekkkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina). Mi’raj ialah dari Masjidil Aqsha, Rasulullah meneruskan perjalanannya ke alam langit menuju Sidratul Muntaha. Ketika di Sidratul Muntaha, Rasulullah Saww hanya sendirian dan malaikat Jibril hanya sampai di bawah Sidratul Muntaha karena sudah tidak mampu untuk naik bersama Rasulullah Saww ke Sidratul Muntaha. Di Sidratul Muntaha, Rasulullah Saww menerima perintah langsung dari Allah Swt untuk melaksanakan Shalat Fardhu 5 waktu dalam sehari semalam. Setelah itu Rasulullah Saww kembali lagi ke Masjidil Haram di Makkah. Menurut suatu riwayat, semua rangkaian peristiwa yang luar biasa menakjubkan tersebut hanya ditempuh dalam waktu sepertiga malam.
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. 17 : 1). Allah juga menjelaskan peristiwa Mi’raj ini lebih detil pada QS. 53: 1-18. Sesungguhnya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini banyak sekali kejadian-kejadian hebat yang dialami Rasulullah Saww, demikian juga pemandangan-pemandangan sangat menakjubkan yang Allah Swt memperlihatkan kepada hamba tercinta-Nya. Rasulullah Saww melakukan Isra’ Mi’raj tersebut dengan ruh dan jasadnya. Jika hanya dialami oleh ruhnya saja tentu tidak akan menjadi satu mukjizat yang super spektakuler, sebab manusia lain pun memiliki kemungkinan untuk mengalami peristiwa seperti itu. Misalkan ketika mimpi terbang ke langit ke tujuh, sebab kejadian mimpi hanya dialami oleh ruh seseorang.

Dalam menentukan tarikh peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut para ulama berbeda pendapat, sebahagian ulama mengatakan pada 27 Rabiul Akhir; sebagian 17 Rabiul Awal; sebagian 29 Ramadhan; sebagian 27 Rajab dan sebagian 7 Rabiul Awal. Tetapi yang terbanyak ialah golongan yang mengatakan pada tanggal 27 Rajab, sekalipun tidak disertai alasan yang kuat. Bahkan tahun kejadiannya juga terdapat perselisihan pendapat dikalangan ulama, ada sebagian yang mengatakan pada tahun ke 5 dari Bi'tsah (tahun pertama diutusnya Nabi), sebagian tahun ke 12 dari Bi'tsah, sebagian pada tahun sebelum Nabi hijrah ke Thaif, sebagian tahun ketiga sebelum hijrah Nabi Saww ke Madinah dan sebagian pula berpendapat lain dari semuanya itu. Tetapi Ibnu Saad dalam kitabnya "At-Tobaqatil Qubra", berpendapat bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah Saww terjadi pada delapan belas bulan sebelum Rasulullah Saww hijrah ke Madinah.

Tetapi dalam sebuah hadits sahih tentang puasa hari Senin, Rasulullah Saww menyatakan bahwa hari itu (Senin) dilahirkan, diutus menjadi Rasul, dan diturunkan al-Quran pertama kalinya (HR Muslim). Jabir dan Ibnu Abbas berpendapat Rasulullah Saww dilahirkan malam Senin 12 Rabiul Awal, pada hari dan tanggal itu beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul, di mi'rajkan ke langit, hijrah ke Madinah, dan wafat. Berdasarkan rekontruksi kronologis astronomi oleh T. Djamaluddin (Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung). Kalau peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada 27 Rajab 1 SH (satu tahun sebelum Hijrah). Itu berarti terjadi pada hari Rabu 15 Oktober 620 M. Pendapat ini sangat bertentangan dengan HR Muslim tentang puasa hari Senin. Bahkan bertentangan juga dengan pendapat Jabir dan Ibnu Abbas. Bila mengikuti pendapat Jabir dan Ibnu Abbas bahwa Isra' Mi'raj terjadi pada hari Senin 12 Rabi'ul Awal, berarti terjadi pada 12 Rabiul Awal 3 SH (tiga tahun sebelum Hijrah) yang bertepatan dengan hari Senin 6 November 618 M. Lantas yang benar tanggal berapa kejadian Isra' Mi'raj Rasulullah Saww tersebut. Penulis lebih cenderung mengikuti pendapat Jabir dan Ibnu Abbas dengan didukung temuan T.Djamaluddin bahwa Isra' Mi'raj Rasulullah Saww terjadi pada hari Senin 12 Rabiul Awal 3 SH (3 tahun sebelum Hijrah) bertepatan dengan 6 November 618 M. Wah pusing deh…..!

3. Kelahiran Ali bin Abi Thalib di dalam Ka'bah

Terjadi peristiwa ajaib yang menggemparkan sejarah umat manusia. Sebab peristiwa ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi sampai hari kiamat, demikian Nabi bersabda. Pada hari Jumat 13 Rajab, 23 tahun sebelum hijrah telah lahir seorang bayi suci di dalam Ka’bah.

Singkat cerita: Fatimah binti Asad, ibunda Ali bin Abi Thalib yang merupakan seorang wanita sholehah, mukminah dan pengikut agama tauhid, pada suatu hari ia memperoleh ilham dari Allah Swt supaya pergi ke Baitullah untuk bertawaf. Ketika sedang mengelilingi Kabah, tiba-tia ia merasakan sakit akan melahirkan. Lalu Fatimah binti Asad memegang kain penutup Ka’bah sambil bersimpuh ke dindingnya, kemudian berdoa: "Ya Allah, wahai Tuhan Pemilik rumah suci ini, sesungguhnya aku ini seorang wanita yang beriman kepada-Mu. Aku juga beriman kepada agama yang dibawa kakekku Ibrahim a.s., kepada para nabi yang telah Engkau utus serta kitab-kitab suci yang telah Kau turunkan. Ya Allah, demi kemuliaan rumah ini dan demi kesucian bayi yang sedang aku kandung ini, maka permudahlah proses kelahiran ini".

Tiba-tiba suatu keajaiban benar-benar terjadi, seketika terdengar suatu gemuruh karena dinding Ka’bah yang di hadapan Fatimah binti Asad terbelah. Fatimah masuk ke dalam Ka’bah, kemudian dinding Ka’bah yang retak itu tertutup kembali. Abbas bin Abdul Muthalib dan kawan-kawannya yang menyaksikan kejadian itu segera memberitahu suami Fatimah binti Asad, yaitu Abu Thalib. Mereka berusaha membuka pintu dan dinding Kabah, tetapi tidak berhasil. Akhirnya mereka hanya bisa menunggu, sambil berdoa dan berharap cemas. Tiga hari kemudian dinding Ka’bah terbelah lagi, Fatimah binti Asad keluar dengan memangku bayi mungil Ali bin Abi Thalib yang telah lahir di dalam Ka’bah.

Rasulullah Saww bersabda: "Ada yang aku miliki dan tidak dimiliki Ali, dan ada yang dimiliki Ali namun aku tidak memilikinya. Yang aku miliki dan tidak dimiliki Ali adalah bahwa aku seorang nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah Swt, sedangkan yang dimiliki Ali namun aku tidak memilikinya ialah bahwa ia satu-satunya manusia yang lahir di dalam Kabah".

Ali bin Abi Thalib yang merupakan salah seorang Ahlul Bait Nabi yang telah disucikan oleh Allah Swt sesuci-sucinya (QS.33: 33), beliau lahir di dalam Ka’bah (Baitullah) yang suci, tumbuh besar dalam buaian dan pangkuan Nabi paling suci yaitu Muhammad Rasulullah Saww, dan pada malam Lailatul Qadr yang suci (19 Ramadhan 40 H) ketika sedang melakukan sujud di Masjid Kufah ia dihantam oleh pedang si manusia paling terkutuk dan paling celaka yang bernama Ibnu Muljam, akhirnya pada malam Lailatul Qadr berikutnya (21 Ramadan 40 H) ruh manusia suci ini terbang menemui Allah Swt. Kalimat terakhir yang keluar dari lisannya yang suci ialah: "Fuzhu wa rabbilka'bati." Sungguh aku telah meraih kemenangan, demi Tuhan pemilik Kabah.

Demikianlah peristiwa besar yang terjadi di bulan Rajab dalam sejarah umat Islam. Umat Islam masih banyak yang tidak tahu terutama tentang tempat kelahiran Ali bin Abi Thalib. Manusia yang ditakdirkan oleh Allah Swt lahir di dalam Baitullah dari rahim Fatimah binti Asad istri dari Abu Thalib.

sekian mengenai Peristiwa Penting dan Bersejarah Bulan Rajab, semoga bermanfaat bagi anda

Labels: , , , ,

Amalan Bulan Rajab

Disini saya akan menjabarkan beberapa amalan di bulan rajab, kita sebagai umat muslim tentunya akan sangat rugi bila tidak mengetahui amalan tersebut, berikut amalan amalan yang pada bulan rajab;

Rasulullah Saww bersabda: “Bulan Rajab adalah bulan Allah Yang Maha Agung, tidak ada bulan yang menandingi kemuliaan dan keutamaannya. Di dalamnya diharamkan berperang dengan orang-orang kafir, karena bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku. Barangsiapa yang berpuasa sehari di dalamnya wajib baginya memperoleh ridha Allah, dijauhkan dari murkanya, dan diselamatkan dari semua pintu neraka.”

Berdasarkan hadits tersebut, Rajab merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah. Sebab di bulan Rajab berperangpun diharamkan guna memberi kesempatan kepada umat Islam agar leluasa melaksanakan ibadah (amalan). Amalan di bulan Rajab ada yang bersifat khusus dan bersifat umum.


Amalan dan doa yang bersifat khusus

Amalan dan doa bersifat khusus adalah amalan yang dilakukan pada malam atau hari tertentu di bulan Rajab di antaranya:

1. Membaca doa berikut pada malam pertama, khususnya ketika melihat bulan tanggal 1 Rajab sbb:



اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، واَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَحِفْظِ اللِّسَانِ، وَغَضِّ الْبَصَرِ، وَلاَ تَجْعَلْ حَظَّـنَا مِنْهُ الْجُوعَ وَالْعَطَشَ .



"Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, sampaikan kami pada bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melakukan puasa, qiyamul layl, menjaga lisan dan menjaga pandangan, dan jangan jadikan puasa kami hanya lapar dan dahaga."

2. Amalan malam Nisyfu Rajab sbb:

a. Mandi sunnah
b. Menghidupkan malam nisyfu Rajab dengan ibadah.
c. Ziarah kepada Rasulullah Saww.
d. Shalat sunnah enam rakaat, salam setiap dua rakaat.
e. Shalat tiga puluh rakaat, salam setiap dua rakaat. Setiap rakaat sesudah membaca surat al-Fatihah dilanjutkan membaca surat Al-Ikhlash (10 kali). Shalat ini memiliki keutamaan yang sangat besar.
f. Shalat dua belas rakaat, salam setiap dua rakaat. Setiap rakaat sesudah membaca surat al-Fatihah dilanjutkan membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq, an-Nas dan al-Qadar (4 kali), lalu membaca:



اَللهُ اَللهُ رَبّي لا اُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً، وَلاَ اَتَّخِذُ مِنْ دُونِه وَلِيّاً،



"Allah, Allah Tuhanku, aku tidak mensekutukan sesuatu dengan-Nya, dan aku tidak menjadikan kekasih dan pemimpin selain-Nya"

Kemudian mohonlah kepada Allah apa yang diinginkan, insya Allah diijabah. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

3. Amalan malam Raghaib
Malam Raghaib yaitu malam Jum’at pertama bulan Rajab, amalan yang dilaksanakan sbb:

a. Berpuasa pada hari Kamis pertama bulan Rajab.
b. Melakukan shalat dua belas rakaat antara Maghrib dan Isya’, setiap dua rakaat salam. Setiap rakaat sesudah membaca surat al-Fatihah dilanjutkan membaca surat Al-Qadar (3 kali) dan surat Al-Ikhlash (12 kali). Setelah selesai melakukan shalat membaca 70 kali:



اللهم صل على محمد النبي الأمي وعلى آله

Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin an-nabiyyil ummiy wa ‘alâ âlihi

(Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad nabi yang ummi dan kepada keluarganya.)

Kemudian sujud dan membaca:




سبوح قدوس رب الملائكة والروح

"Maha Suci dan Maha Quddus Tuhannya malaikat dan Ar-Ruh"

Kemudian duduk kembali dan membaca 70 kali:




رب اغفر وارحم وتجاوز عما تعلم انك انت العلي الأعظم

Rabbighfir warham wa tajâwaz ‘ammâ ta’lamu innaka Antal ‘Aliyyul ‘A’zham

"Tuhanku, ampuni daku, sayangi daku, dan hapuskan dosaku yang telah Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha Tinggi dan Maha Agung."

Kemudian sujud kembali dan membaca 70 kali:


سبوح قدوس رب الملائكة والروح


"Maha Suci dan Maha Quddus Tuhannya malaikat dan Ar-Ruh"

Kemudian tetap dalam kondidi sujud mohonlah hajat Anda kepada Allah swt, insya Allah dipenuhi oleh-Nya. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada seorang pun yang berpuasa pada hari Kami pertama bulan Rajab, kemudian melakukan shalat dua belas rakaat antara Maghrib dan Isya’. Kemudian shalat membaca shalawat kepadaku 70 kali, kemudian sujud dan membaca: Subbûhun Quddûsun Rabbul malâikati war-rûh. Kemudian duduk kembali dan membaca 70 kali: Rabbighfir warham wa tajâwaz ‘ammâ ta’lamu innaka Antal ‘Aliyyul ‘A’zham. Kemudian sujud kembali dan membaca sebagaimana bacaan yang pertama, kemudian memohon hajatnya kepada Allah dalam sujud, niscaya hajat ditunaikan oleh-Nya.”

Amalan dan doa yang bersifat umum

Amalan dan doa bersifat umum yang diajarkan oleh Rasulullah Saww di bulan Rajab di antaranya:

1. Memperbanyak membaca istighfar: Astaghfirullaha wa atubu ilayh.
2. Dalam suatu riwayat disebutkan: “Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa, maka hendaknya membaca tasbih 100 kali setiap hari, agar memperoleh pahala puasa di dalamnya. Tasbihnya sebagai berikut:



سُبْحَانَ الاِْلهِ الْجَليلِ، سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلاّ لَهُ، سُبْحَانَ اْلأَعَزِّ اْلاَكْرَمِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْعِزَّ وَهُوَ لَهُ اَهْلٌ .



"Mahasuci Tuhan Yang Maha Agung, Mahasuci yang tak layak ditasbih kecuali Dia, Mahasuci Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Mahasuci Yang Memakai pakaian keagungan dan hanya Dia yang layak memilikinya."

3. Membaca doa:



اَللّهُمَّ اِنّي اَساَلُكَ صَبْرَ الشّاكِرينَ لَكَ، وَعَمَلَ الْخائِفينَ مِنْك، وَيَقينَ الْعابِدينَ لَكَ، اَللّهُمَّ اَنْتَ الْعَلِيُّ الْعَظيمُ، وَاَنَا عَبْدُكَ الْبائِسُ الْفَقيرُ، اَنْتَ الْغَنِيُّ الْحَميدُ، وَاَنَا الْعَبْدُ الذَّليل، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِهِ وَاْمْنُنْ بِغِناكَ عَلى فَقْري، وَبِحِلْمِكَ عَلى جَهْلي، وَبِقُوَّتِكَ عَلى ضَعْفي، يا قَوِيُّ يا عَزيزُ، اَللّـهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِهِ الاْوصياءِ الْمَرْضِيِّينَ، وَاكْفِني ما اَهَمَّني مِنْ اَمْرِ الدُّنْيا وَالاخِرَةِ يا اَرْحَمَ الرّاحِمينَ .


"Ya Allah, aku memohon kesabaran orang-orang yang bersyukur pada-Mu, amal orang-orang takut pada-Mu, dan keyakinan orang-orang yang beribadah pada-Mu. Ya Allah, Engkau Maha Mulia dan Maha Agung, sementara aku adalah hamba-Mu yang sengsara dan fakir. Engkau Maha kaya dan Maha Terpuji, sementara aku adalah hamba-Mu yang hina. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karuniakan kekayaan-Mu pada kefakiranku, santun-Mu pada kejahilanku, kekuatan-Mu pada kelemahanku wahai Yang Maha Kuat dan Maha Mulia. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya para washinya yang diridhai oleh Allah, cukupi daku apa yang kuinginkan dalam urusan dunia dan akhirat wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi."

4. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca istighfar berikut di bulan Rajab sebanyak 100 kali dan mengakhirinya dengan bersedekah, Allah akan mengakhirinya dengan rahmat dan ampunan-Nya. Dan barangsiapa yang membacanya 400 kali, Allah mencatat pahala baginya seperti pahala 100 orang yang mati syahid:




اَسْتَغْفِرُ اللهَ لا اِلهَ إِلاّ هُوَ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ وَاَتُوبُ اِلَيْهِ


"Aku mohon ampun kepada Allah, tiada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya"

5. Membaca doa berikut setiap sesudah shalat fardhu:



يا مَنْ اَرْجُوهُ لِكُلِّ خَيْر، وَآمَنَ سَخَطَهُ عِنْدَ كُلِّ شَرٍّ، يا مَنْ يُعْطِي الْكَثيرَ بِالْقَليلِ، يا مَنْ يُعْطي مَنْ سَأَلَهُ يا مَنْ يُعْطي مَنْ لَمْ يَسْأَلْهُ وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْهُ تَحَنُّناً مِنْهُ وَرَحْمَةً، اَعْطِني بِمَسْأَلَتي اِيّاكَ جَميعَ خَيْرِ الدُّنْيا وَجَميعَ خَيْرِ الاْخِرَةِ، وَاصْرِفْ عَنّي بِمَسْأَلَتي اِيّاكَ جَميعَ شَرِّ الدُّنْيا وَشَرِّ الاْخِرَةِ، فَاِنَّهُ غَيْرُ مَنْقُوص ما اَعْطَيْتَ، وَزِدْني مِنْ فَضْلِكَ يا كَريمُ.


"Wahai yang aku harapkan dari-Nya semua kebaikan, yang aku takutkan murka-Nya dalam setiap keburukan. Wahai Yang Memberi karunia yang banyak dalam amal yang sedikit. Wahai Yang Memberi karunia pada orang yang memohon. Wahai Yang Memberi karunia pada orang yang tidak memohon dan belum mengenal rahmat dan kasih sayang-Nya, karuniakan padaku apa yang kumohon pada-Mu semua kebaikan dunia dan semua kebaikan akhirat, dan selamatkan daku dengan permohonanku pada-Mu dari semua keburukan dunia dan keburukan akhirat. Karena tak akan berkurang apa yang telah Kau berikan, dan tambahkan padaku dari karunia-Mu wahai Yang Maha Mulia."

Referensi: Al-Haj al-Syaikh ‘Abbas al-Qumi, Mafatih al-Jinan, Mansyurat Dzawi al-Qurba, Beirut, 1992.

Sekian amalan amalan di bualn rajab

Labels: , , , ,

bulan rajab

Bulan rajab adalah bulan yang penuh rahmat, di bulan ini umat islam di sunnahkan berpuasa khususnya pada 3 hari pertama pada bulan rajab

keutamaan hari pertama pada bulan rajab (1 rajab) = puasa 3 tahun
keutamaan hari kedua pada bulan rajab (2 rajab) = puasa 2 tahun
keutamaan hari ketiga pada bulan rajab (3 rajab) = puasa 1 tahun
keutamaan hari-hari setelahnya (4-27) = puasa 1 bulan untuk tiap harinya

*jadi rugi bila kita tidak menjalankannya

Labels: , , ,